Pada suatu ketika Imam Al Ghozali sedang mengajar bertanya
kepada murid-muridnya, “Wahai anak-anaku apakah yang paling dekat menurut
kalian?”, sebagian murid-muridnyapun ada yang menjawab bahwa yang paling dekat
itu adalah istri, setiap hari dan setiap malam mereka berkumpul dan bertemu
dalam satu rumah , sebagian yang lain ada yang menjawab bahwa yang paling dekat
itu adalah ibu, ada yang menjawab bapak, karena mereka hidup serumah dengan kedua
orang tuanya. Kemudian Imam Al Ghozali berkata, “jawaban kalian betul, akan
tetapi belumlah tepat, sesungguhnya yang paling dekat dalam hidup ini adalah
kematian, dia selalu mengikutimu meskipun engkau pergi kemana saja, jikalau
istri, ibu, bapak telah meninggal dunia maka kalian akan terpisah dengan
mereka, mereka berada di dalam kuburan sedangkan engkau akan tinggal di rumah,
akan tetapi kematian tidaklah pernah terpisah sebelum kematian itu terlaksana
pada dirimu dan engkau tidak mengetahui kapan dia tiba, setiap detik kematian itu
terus ada disisimu.”
Kemudian Imam Al Ghozali bertanya lagi kepada
murid-muridnya, “apakah yang paling jauh menurut kalian?” Sebagian murid
menjawab bahwa yang paling jauh itu adalah negeri Cina, sebagian lagi menjawab
puncak gunung yang tinggi, sebagian yang lain menjawab ujung bumi di kutub
utara dan selatan. Mendengar jawaban-jawaban ini Imam Al Ghozalipun berkata,
“Negeri Cina akan dapat dikunjungi, puncak gunung akan dapat didaki, dan ujung
dunia di kutub utara dan selatanpun akan dapat di tercapai pada suatu saat
nanti jika kalian menempuh perjalanan menujunya, namun sesungguhnya yang paling
jauh dari kalian adalah hari kemarin, kalian tidak akan pernah dapat
mencapainya walaupun bagaimanapun usaha kalian berbuat, masa lalu tidak akan
pernah kembali dan tidak akan pernah bisa dikunjungi, itulah sesuatu yang
paling jauh dari dirimu.”
Demikianlah saudaraku, bahwa sesuatu yang paling dekat
dengan kita adalah kematian dan sesuatu yang paling jauh dari kita adalah hari
kemarin, kematian dan hari kemudian adalah masa depan yang dekat dan hari
kemarin adalah masa lalu yang akan terus menjauh dan semakin jauh tak kan
pernah terkunjungi lagi, sehingga dengan demikian sadarlah kita tetang dua hal
itu. Terhadap yang pertama, yakni kematian, maka kita segera menginstropeksi
diri apakah yang telah kita persiapkan untuk bekal menghadapinya? Apa saja yang
telah kita persiapkan untuk masa depan yang akan menjadi penentuan kehidupan
abadi kita? Sehingga dengan instropeksi diri ini mari kita memperbanyak amal
ibadah kepada Allah SWT, memperbanyak amal sholih untuk bekal pada saat maut
itu menjemput kita, dan kita selalu berusaha terus dalam keadaan berbuat baik
sehingga kematian kita dalam kondisi yang baik yakni khusnul khotimah.
Kemudian terhadap yang kedua, yakni hari kemarin dan masa
lalu, mari kita juga mengevaluasi diri, betapa banyak dosa-dosa yang telah kita
lakukan, apakah kita telah bertaubat atas setiap kesalahan yang telah kita
lakukan? Satu demi satu? Sudahkah kita menghitung-hitung setiap kesalahan yang
telah kita lakukan dan kemudian memohon ampun kepada Allah SWT atas kesalahan
itu. Sudahkah kita pula menghitung berapa banyak saudara-saudara kita, umat
manusia yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal telah merasakan keburukan
dari perilaku kita? Dari ucapan kasar dan menyakitkan yang keluar dari mulut
kita? Dari tindakan yang tidak sepantasnya? Dan lain sebagainya, yang mungkin
terkadang kita tidak menyadarinya? Marilah kita menghitung-hitung itu semua dan
bersegera mengujungi saudara kita tersebut dan meminta maaf kapadanya, memenuhi
kebutuhannya yang mungkin pernah kita abaikan atau mengembalikan hak yang mungkin
pernah kita ambil tanpa kerelaannya. Tidakkah itu semua bisa kita segerakan?
Masihkah terbersit di benak kita istilah nanti dulu, lain kali, atau belum
sempat? Tidak takutkah engkau jika ternyata yang bersangkutan telah meninggal
dunia atau diri kita sendiri yang tak terduga tiba-tiba jatuh tersungkur
sebelum keluar sepatah kata maafpun dari lisan kita? Maka segeralah bertaubat
kepada Allah dan kunjungi saudara kita tersebut, setidaknya segera telpon atau
kirim SMS saudara kita tersebut dan sampaikan permohonan maaf yang tulus atas
segala khilaf dan kesalah yang pernah dilakukan.
Karena saudaraku, jika kita belum sempat meminta maaf kepada
orang yang pernah kita sakiti dan ternyata dia tidak rela/rihda atas apa yang
kita lakukan terhadapnya sedangkan dia keburu meninggal dunia atau kita sendiri
yang terlebih dahulu meninggal dunia, maka diakhirat kelak kita sungguh-sungguh
akan menjadi orag-orang yang merugi, bangkrut sebangkrut-bangkrutnya.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, tentang orang yang
paling bangkrut di akhirat kelak yaitu orang yang memiliki paha amal perbuatan
yang baik namun kemudian paha amal tersebut sedikit demi sedikit habis diminta
oleh orang-orang yang tersakiti oleh kita ketika masih di dunia, kalau pahala
amal kita tersebut sudah habis maka keburukan-keburukan orang-orang yang kita
sakiti itulah yang akan ditimpakan kepada kita. Bukankah ini suatu kerugian
yang tiada terkira? Kita sudah melakukan banyak kebaikan di dunia namun
kemudian habis tiada berguna dan berganti menjadi tumpukan keburukan-keburukan
saudara-saudara kita yang ditimpakan kepada kita, maka jadilah kita akhirnya
menjadi penanggung keburukan dan dimasukkan kedalam neraka. Naudzubilah tsuma
naudzubilah..kita berlindung kepada Allah dari peristiwa yang demikian, dan
mari kita segera bertaubat dan memohon maaf kepada saudara-saudara kita atas
kesalahan-kesalahan yang kita lakukan.
[Terinspirasi dari pengantar materi khutbah Jum’at di masjid
Al-Oesman, Teluk; 13 juli 2012]
Yang Paling Dekat dan Yang Paling Jauh
Reviewed by Beni Sumarlin
on
07.46.00
Rating:
Reviewed by Beni Sumarlin
on
07.46.00
Rating:

Tidak ada komentar: